Peace Leader Ajak Pemuda Berdialog tentang Toleransi Lintas Agama

Home / Berita / Peace Leader Ajak Pemuda Berdialog tentang Toleransi Lintas Agama
Peace Leader Ajak Pemuda Berdialog tentang Toleransi Lintas Agama Ketua Peace Leader Redy Saputro (tengah) dalam dialog Toleransi Lintas Agama yang diikuti sejumlah pemuda Jember. (FOTO: Dian Cahyani/TIMES Indonesia)

TIMESSANGGATTA, JEMBER – Kasus intoleransi di Kabupaten Jember, Jawa Timur dinilai masih cukup tinggi. Kasus krisis perdamaian yang terjadi di Jember di antaranya ricuh dalam pembangunan Gereja Palamastri dan kerusuhan menentang keberadaan kelompok syiah di Puger. Berangkat dari hal tersebut, Peace Leader, komunitas yang mewadahi pemuda lintas agama di Jember melakukan sosialisasi untuk memupuk rasa toleransi di masyarakat.

"Siapapun bisa menjadi anggota Peace Leader, selama ia mampu bersikap toleransi dan tidak memasang sekat untuk bersosial dengan yang lainnya.” Tegas Redy Saputro, Ketua Peace Leader dalam diskusi Toleransi Lintas Agama di Aula Barnabas Gereja Katolik Santo Yusuf, Jember, Jumat malam (11/5/2018).

Redy menerangkan, pergerakan Peace Leader didasari oleh pengalaman anak muda mengenai sentimen perbedaan agama dan ras. Hal ini yang kemudian memberikan pengaruh pada proses sosial dan upaya saling menghargai atau toleransi yang semakin terkikis 

Untuk melancarkan kampanyenya, Peace Leader melakukan tiga kegiataan wajib, yakni berupa peace service, pendidikan publik, dan dialog perdamaian. Peace service salah satu bentuknya yakni kegiataan bersih-bersih di rumah ibadah. Peace Leader telah melakukan peace service di gereja, wihara, masjid, dan sejumlah makam yang ada di Jember.

Selanjutnya, pendidikan publik di antaranya Peace go to Campus dan Peace go to School. Kegiataan ini bertujuan untuk memberikan sosialisasi mengenai perdamaian dan toleransi. Terakhir adalah, dialog perdamaian, yang selama ini biasanya disampaikan melalui radio.

Redy mengungkapkan bahwa dalam perjalanannya kegiatan Peace Leader tidak musti berjalan mulus. Masih banyak anggapan negatif dari masyarakat.

"Kami kerap mendapat pengusiran, makian, dan hujatan ketika melaksanakan program peace service. Walaupun demikian Peace Leader tidak putus asa untuk mengupayakan misi perdamaiaan. Tidak jarang kami melakukan kerja sama dengan berbagai yayasan dan gerakan sosial," ujar Redy. (*)

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com